WoW dotA Allstars

This is Description

Kamis, 29 Desember 2011

Sebab dan Pencegahan Kanker Serviks

Kanker Serviks atau kanker leher rahim ternyata dapat disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan Anda, jadi hati-hatilah dengan penyakit yang telah membunuh banyak wanita di dunia ini.

Banyak sekali kasus HPV terdiagnosis di dunia dan ribuan wanita meninggal karena kanker serviks, yang ditimbulkan oleh infeksi HPV (Penyakit dari hubungan seksual). HPV adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada kaum wanita di negeri-negeri berkembang. Kanker serviks merupakan jenis kanker rahim yang paling umum kedua di dunia. Apa yang dimaksud HPV itu? Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari kanker serviks?

Kanker serviks terjadi pada area serviks atau leher rahim wanita. Penyebabnya karena infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan bisul atau kutil pada bagian serviks seorang wanita, termasuk bisul pada kelamin. Ini bisa terjadi pada pria maupun wanita. Namun, kutil ini akan berkembang menjadi kanker hanya pada wanita. Sedangkan seorang pria bisa berperan sebagai media penularan. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi HPV yang tidak sembuh-sembuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Kanker serviks setidaknya menelan korban satu wanita setiap jam di Indonesia
Wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat muda rentan terinfeksi HPV. Selain itu, wanita yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan juga memiliki faktor risiko tinggi tertular HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Dalam banyak kasus, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya.

Tetapi, dalam beberapa kasus, wanita yang kehidupannya bersih secara moral atau mungkin tidak pernah melakukan hubungan seks bisa terinfeksi juga. Misalnya, ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda. Cara lain yaitu ditularkan melalui persalinan dari ibu kepada anaknya.

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Kanker serviks bisa dihindari. Tentunya ini bisa terjadi jika seorang wanita rutin melakukan tindakan pencegahan yaitu deteksi dini. Beberapa cara untuk deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan perkembangan yang lebih modern yaitu thin prep. Kedua metode pemeriksaan itu sudah terbukti cukup menekan angka kematian karena kanker serviks.

Pemeriksaan pap smear lebih dikenal di masyarakat Indonesia bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas. Metode pengembangan pap smear adalah thin prep yang lebih menjamin keakuratan hasil pengambilan sampel dari daerah serviks sehingga dapat didiagnosa dengan tepat jika terdapat sel atau jaringan yang abnormal. Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar atau mikroskop untuk mengamati bagian yang terinfeksi.

Metode pemeriksaan lain yang lebih sederhana adalah Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA) yang cukup terjangkau harganya. Metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah.

Semua pemeriksaan tersebut sebaiknya rutin dilakukan setidaknya setahun sekali agar dapat mendeteksi secara dini jika terjadi infeksi HPV. Infeksi HPV pada serviks dapat berkembang menjadi sel pre-kanker yang pada akhirnya jika tidak diatasi bisa menjadi kanker serviks yang mematikan. Kanker serviks bisa dicegah dan bisa diobati. Deteksi sejak dini dan rutin melakukan pap smear atau thin prep atau metode pemeriksaan lainnya untuk organ kewanitaan (pelvis) akan memperkecil risiko terkena kanker serviks.

Ubah gaya hidup Anda dan juga pola makan Anda agar terhindar dari penyakit yang membunuh banyak wanita di dunia ini. Misalnya dengan menghindari merokok, terbiasa dengan pola makan sehat, dan menghindari seks bebas, juga menjadi bagian untuk mencegah tertular virus HPV. Dengan demikian, maka kesehatan serviks atau leher rahim lebih terjamin. Dengan gaya hidup dan cara yang tepat, kanker serviks bisa dicegah.Banyak sekali kasus HPV terdiagnosis di dunia dan ribuan wanita meninggal karena kanker serviks, yang ditimbulkan oleh infeksi HPV. HPV adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada kaum wanita di negeri-negeri berkembang. Kanker serviks merupakan jenis kanker rahim yang paling umum kedua di dunia. Apa yang dimaksud HPV itu? Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari kanker serviks?

Kanker serviks terjadi pada area serviks atau leher rahim wanita. Penyebabnya karena infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan bisul atau kutil pada bagian serviks seorang wanita, termasuk bisul pada kelamin. Ini bisa terjadi pada pria maupun wanita. Namun, kutil ini akan berkembang menjadi kanker hanya pada wanita. Sedangkan seorang pria bisa berperan sebagai media penularan. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi HPV yang tidak sembuh-sembuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Kanker serviks setidaknya menelan korban satu wanita setiap jam di Indonesia
Wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat muda rentan terinfeksi HPV. Selain itu, wanita yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan juga memiliki faktor risiko tinggi tertular HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Dalam banyak kasus, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya.

Tetapi, dalam beberapa kasus, wanita yang kehidupannya bersih secara moral atau mungkin tidak pernah melakukan hubungan seks bisa terinfeksi juga. Misalnya, ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda. Cara lain yaitu ditularkan melalui persalinan dari ibu kepada anaknya.

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Kanker serviks bisa dihindari. Tentunya ini bisa terjadi jika seorang wanita rutin melakukan tindakan pencegahan yaitu deteksi dini. Beberapa cara untuk deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan perkembangan yang lebih modern yaitu thin prep. Kedua metode pemeriksaan itu sudah terbukti cukup menekan angka kematian karena kanker serviks.

Pemeriksaan pap smear lebih dikenal di masyarakat Indonesia bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas. Metode pengembangan pap smear adalah thin prep yang lebih menjamin keakuratan hasil pengambilan sampel dari daerah serviks sehingga dapat didiagnosa dengan tepat jika terdapat sel atau jaringan yang abnormal. Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar atau mikroskop untuk mengamati bagian yang terinfeksi.

Metode pemeriksaan lain yang lebih sederhana adalah Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA) yang cukup terjangkau harganya. Metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah.

Semua pemeriksaan tersebut sebaiknya rutin dilakukan setidaknya setahun sekali agar dapat mendeteksi secara dini jika terjadi infeksi HPV. Infeksi HPV pada serviks dapat berkembang menjadi sel pre-kanker yang pada akhirnya jika tidak diatasi bisa menjadi kanker serviks yang mematikan. Kanker serviks bisa dicegah dan bisa diobati. Deteksi sejak dini dan rutin melakukan pap smear atau thin prep atau metode pemeriksaan lainnya untuk organ kewanitaan (pelvis) akan memperkecil risiko terkena kanker serviks.

Ubah gaya hidup Anda dan juga pola makan Anda agar terhindar dari penyakit yang membunuh banyak wanita di dunia ini. Misalnya dengan menghindari merokok, terbiasa dengan pola makan sehat, dan menghindari seks bebas, juga menjadi bagian untuk mencegah tertular virus HPV. Dengan demikian, maka kesehatan serviks atau leher rahim lebih terjamin. Dengan gaya hidup dan cara yang tepat, kanker serviks bisa dicegah. Kanker Serviks atau kanker leher rahim ternyata dapat disebabkan oleh gaya hidup dan pola makan Anda, jadi hati-hatilah dengan penyakit yang telah membunuh banyak wanita di dunia ini.

Banyak sekali kasus HPV terdiagnosis di dunia dan ribuan wanita meninggal karena kanker serviks, yang ditimbulkan oleh infeksi HPV (Penyakit dari hubungan seksual). HPV adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada kaum wanita di negeri-negeri berkembang. Kanker serviks merupakan jenis kanker rahim yang paling umum kedua di dunia. Apa yang dimaksud HPV itu? Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari kanker serviks?

Kanker serviks terjadi pada area serviks atau leher rahim wanita. Penyebabnya karena infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan bisul atau kutil pada bagian serviks seorang wanita, termasuk bisul pada kelamin. Ini bisa terjadi pada pria maupun wanita. Namun, kutil ini akan berkembang menjadi kanker hanya pada wanita. Sedangkan seorang pria bisa berperan sebagai media penularan. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi HPV yang tidak sembuh-sembuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Kanker serviks setidaknya menelan korban satu wanita setiap jam di Indonesia
Wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat muda rentan terinfeksi HPV. Selain itu, wanita yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan juga memiliki faktor risiko tinggi tertular HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Dalam banyak kasus, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya.

Tetapi, dalam beberapa kasus, wanita yang kehidupannya bersih secara moral atau mungkin tidak pernah melakukan hubungan seks bisa terinfeksi juga. Misalnya, ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda. Cara lain yaitu ditularkan melalui persalinan dari ibu kepada anaknya.

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Kanker serviks bisa dihindari. Tentunya ini bisa terjadi jika seorang wanita rutin melakukan tindakan pencegahan yaitu deteksi dini. Beberapa cara untuk deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan perkembangan yang lebih modern yaitu thin prep. Kedua metode pemeriksaan itu sudah terbukti cukup menekan angka kematian karena kanker serviks.

Pemeriksaan pap smear lebih dikenal di masyarakat Indonesia bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas. Metode pengembangan pap smear adalah thin prep yang lebih menjamin keakuratan hasil pengambilan sampel dari daerah serviks sehingga dapat didiagnosa dengan tepat jika terdapat sel atau jaringan yang abnormal. Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar atau mikroskop untuk mengamati bagian yang terinfeksi.

Metode pemeriksaan lain yang lebih sederhana adalah Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA) yang cukup terjangkau harganya. Metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah.

Semua pemeriksaan tersebut sebaiknya rutin dilakukan setidaknya setahun sekali agar dapat mendeteksi secara dini jika terjadi infeksi HPV. Infeksi HPV pada serviks dapat berkembang menjadi sel pre-kanker yang pada akhirnya jika tidak diatasi bisa menjadi kanker serviks yang mematikan. Kanker serviks bisa dicegah dan bisa diobati. Deteksi sejak dini dan rutin melakukan pap smear atau thin prep atau metode pemeriksaan lainnya untuk organ kewanitaan (pelvis) akan memperkecil risiko terkena kanker serviks.

Ubah gaya hidup Anda dan juga pola makan Anda agar terhindar dari penyakit yang membunuh banyak wanita di dunia ini. Misalnya dengan menghindari merokok, terbiasa dengan pola makan sehat, dan menghindari seks bebas, juga menjadi bagian untuk mencegah tertular virus HPV. Dengan demikian, maka kesehatan serviks atau leher rahim lebih terjamin. Dengan gaya hidup dan cara yang tepat, kanker serviks bisa dicegah.Banyak sekali kasus HPV terdiagnosis di dunia dan ribuan wanita meninggal karena kanker serviks, yang ditimbulkan oleh infeksi HPV. HPV adalah penyebab utama kematian akibat kanker pada kaum wanita di negeri-negeri berkembang. Kanker serviks merupakan jenis kanker rahim yang paling umum kedua di dunia. Apa yang dimaksud HPV itu? Lalu bagaimana caranya agar terhindar dari kanker serviks?

Kanker serviks terjadi pada area serviks atau leher rahim wanita. Penyebabnya karena infeksi virus HPV (human papillomavirus) atau virus papiloma manusia. HPV menimbulkan bisul atau kutil pada bagian serviks seorang wanita, termasuk bisul pada kelamin. Ini bisa terjadi pada pria maupun wanita. Namun, kutil ini akan berkembang menjadi kanker hanya pada wanita. Sedangkan seorang pria bisa berperan sebagai media penularan. Kanker serviks atau kanker leher rahim bisa terjadi jika terjadi infeksi HPV yang tidak sembuh-sembuh dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebaliknya, kebanyakan infeksi HPV akan hilang sendiri, teratasi oleh sistem kekebalan tubuh.

Kanker serviks setidaknya menelan korban satu wanita setiap jam di Indonesia
Wanita yang aktif berhubungan seks sejak usia sangat muda rentan terinfeksi HPV. Selain itu, wanita yang sering berganti pasangan seks, atau yang berhubungan seks dengan pria yang suka berganti pasangan juga memiliki faktor risiko tinggi tertular HPV yang bisa menyebabkan kanker serviks. Dalam banyak kasus, pria yang tidak menunjukkan gejala terinfeksi HPV itulah yang menularkannya kepada pasangannya.

Tetapi, dalam beberapa kasus, wanita yang kehidupannya bersih secara moral atau mungkin tidak pernah melakukan hubungan seks bisa terinfeksi juga. Misalnya, ketika terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda. Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker ini mungkin menggunakan closet, virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet. Bila Anda menggunakannya tanpa membersihkannya, bisa saja virus kemudian berpindah ke daerah genital Anda. Cara lain yaitu ditularkan melalui persalinan dari ibu kepada anaknya.

Beberapa gejala bisa diamati meski tidak selalu menjadi petunjuk infeksi HPV. Keputihan atau mengeluarkan sedikit darah setelah melakukan hubungan intim adalah sedikit tanda gejala dari kanker ini. Selain itu, adanya cairan kekuningan yang berbau di area genital juga bisa menjadi petunjuk infeksi HPV. Virus ini dapat menular dari seorang penderita kepada orang lain dan menginfeksi orang tersebut. Penularannya dapat melalui kontak langsung dan karena hubungan seks.

Kanker serviks bisa dihindari. Tentunya ini bisa terjadi jika seorang wanita rutin melakukan tindakan pencegahan yaitu deteksi dini. Beberapa cara untuk deteksi dini kanker serviks adalah dengan melakukan pemeriksaan pap smear dan perkembangan yang lebih modern yaitu thin prep. Kedua metode pemeriksaan itu sudah terbukti cukup menekan angka kematian karena kanker serviks.

Pemeriksaan pap smear lebih dikenal di masyarakat Indonesia bahkan sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas. Metode pengembangan pap smear adalah thin prep yang lebih menjamin keakuratan hasil pengambilan sampel dari daerah serviks sehingga dapat didiagnosa dengan tepat jika terdapat sel atau jaringan yang abnormal. Jika semua hasil tes pada metode sebelumnya menunjukkan adanya infeksi atau kejanggalan, prosedur kolposkopi akan dilakukan dengan menggunakan alat yang dilengkapi lensa pembesar atau mikroskop untuk mengamati bagian yang terinfeksi.

Metode pemeriksaan lain yang lebih sederhana adalah Inspeksi Visual dengan Asam asetat (IVA) yang cukup terjangkau harganya. Metode pemeriksaan dengan mengoles serviks atau leher rahim dengan asam asetat. Kemudian diamati apakah ada kelainan seperti area berwarna putih. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks. Anda dapat melakukan di Puskesmas dengan harga relatif murah.

Semua pemeriksaan tersebut sebaiknya rutin dilakukan setidaknya setahun sekali agar dapat mendeteksi secara dini jika terjadi infeksi HPV. Infeksi HPV pada serviks dapat berkembang menjadi sel pre-kanker yang pada akhirnya jika tidak diatasi bisa menjadi kanker serviks yang mematikan. Kanker serviks bisa dicegah dan bisa diobati. Deteksi sejak dini dan rutin melakukan pap smear atau thin prep atau metode pemeriksaan lainnya untuk organ kewanitaan (pelvis) akan memperkecil risiko terkena kanker serviks.

Ubah gaya hidup Anda dan juga pola makan Anda agar terhindar dari penyakit yang membunuh banyak wanita di dunia ini. Misalnya dengan menghindari merokok, terbiasa dengan pola makan sehat, dan menghindari seks bebas, juga menjadi bagian untuk mencegah tertular virus HPV. Dengan demikian, maka kesehatan serviks atau leher rahim lebih terjamin. Dengan gaya hidup dan cara yang tepat, kanker serviks bisa dicegah.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

My Blog List